“ MENCARI KEBENARAN ISLAM “
Judul Buku : Akatsuki
Penulis : Miyazaki Ichigo
Penerbit : Mizania
Tebal : 304
Tahun Terbit : 2010
Harga : Rp. 44.000
Novel Akatsuki adalah novel Miyazaki yang pertama di bukukan. Sebelum ini, cerpennya yang berjudul Karena Itu, Aku Wanita, Maksudku...Muslimah telah memperoleh juara dalam lomba menulis cerpen Islami. Cerpennya yang lain, Lebih Baik Kau Diam menjadi juara III dalam Lomba Menulis Kisah Islami yang diadakan oleh Muslimat Hidayatullah ( Mushida ) pada tahun 2008 dan dibukukan bersama karya finalis lainnya dalam buku kumpulan cerpen Kutemukan Cinta dalam Tahajjudku terbitan Bina Ilmu Surabaya. Banyak yang mengira novel Akatsuki adalah novel terjemahan karena penulisnya menggunakan nama pena. Novel ini menggunakan alur maju mundur.
Dalam menyelesaikan novelnya Miyazaki Ichigo banyak meminta nasehat, ide, inspirasi maupun cerita – cerita motivasi kepada teman – teman dan orang-orang disekelilingnya.
Novel yang dihiasi pencarian kebenaran islam, eksotisme alam dan bercerita tentang budaya Jepang ini mampu mengupas ikhwal perilaku manusia, bukan hanya tentang percintaannya, tapi juga perjuangan untuk mencari ridha-Nya.
Dengan setting tempat di Jepang, cerita dimulai dari prolog berjudul 始めましょう yang artinya Mari Kita Mulai. Dibuka dengan kisah kelahiran sang tokoh utama, Mayumi, yang ditinggal mati oleh ibunya saat melahirkannya. Kisah berlanjut ke bab selanjutnya, 合図 yang berarti Sinyal. Pada bab ini diceritakan kisah Mayumi remaja yang kakak laki-lakinya sudah kembali dari kuliah kedokterannya di Inggris. "Mayu-hime" itu adalah panggilan sayang dari kakaknya pada Mayumi yang berarti "Putri Mayu".
Dari kisah-kisah selanjutnya, diketahui bahwa sepeninggal ibunya setelah melahirkannya pada prolog, ayahnya meminta tolong pada istri sahabatnya untuk menyapih Mayumi. Keluarga Nakano (nama sahabat ayahnya) kebetulan baru saja kehilangan anak laki-laki keduanya, jadilah Mayumi pun disapih oleh Ibu Nakano seperti anaknya sendiri. Suatu ketika ayah Mayumi, meninggal dalam perjalanan menuju kantornya, jadilah Mayumi seorang yatim piatu. Dia pun diangkat menjadi anak oleh keluarga Nakano. Tak butuh waktu lama untuk Mayumi diterima oleh keluarga tersebut. Mayumi sangat disayangi oleh ibu dan kakak angkatnya.
Mayumi merupakan gadis yang cantik. Digambarkan sebagai pribadi yang tidak feminin, tapi juga tidak tomboy. Mayumi tidak suka berdandan dan paling tidak suka merias wajahnya. Tapi dia tidak pernah melupakan kodratnya sebagai perempuan. Di sekolah pun dia anak yang sederhana saja dengan banyak teman di sekelilingnya. Ada Kozue yang merupakan sahabat lamanya, Kira Si Ketua Kelas yang dapat diandalkan dan nampaknya menaruh hati pada Mayumi, Rin, gadis lemah lembut yang diketahui mengagumi teman sekelasnya yang bernama Kagawa Satoshi Sang Pangeran Es, Takuya, dan Chiba yang merupakan sahabat Sang Pangeran Es.
Berawal dari rasa penasaran Mayumi akan kelakuan Satoshi ( Sang Pangeran Es ) yang selalu menghilang saat jam makan siang dan penolakan Satoshi saat dipilih menjadi pemeran pangeran dalam pentas kebudayaan di sekolahnya. Lewat suatu kejadian, Mayumi dan Satoshi pun bercakap untuk pertama kalinya. Dari situlah Mayumi mengetahui bahwa Satoshi seorang Muslim, yang menjawab pertanyaan-pertanyaanya tentang tingkah tidak biasa Satoshi selama ini yang ternyata shalat dzuhur saat jam makan siang, sampai cara bicara dan sikap Satoshi terhadap lawan jenis yang akhirnya membuatnya disebut sebagai Pangeran Es.
Rasa penasaran Mayumi terhadap Satoshi pun merambat pada Islam. Dia ingin mengetahui agama seperti apa yang diyakini oleh Satoshi hingga membuatnya terlihat bebeda dari orang Jepang lainnya. Dia pun berkenalan dengan Ayame, kakak perempuan Satoshi yang merupakan seorang muslimah berjilbab. Dari Ayame-lah Mayumi banyak mengetahui tentang Islam.
Cerita terus bergulir. Shun, kakak Mayumi dari keluarga Nakano yang memanggilnya Mayuhime, memperkenalkannya dengan seseorang bernama Henry Finch yang nantinya akan diketahui bahwa ternyata Henry memiliki hubungan darah dengan Mayumi. Konflik pun mulai berdatangan dalam hidup Mayumi, hingga suatu hari mayumi diusir dari rumah keluarga Nakano karena suatu masalah yang tidak seharusnya terjadi.
Setelah diusir dari rumah keluarga Nakano, Mayumi menginap beberapa hari dirumah Satoshi. Dirumah itulah pada saat matahari terbit Mayumi mengikrarkan diri masuk islam. Selama berada di rumah Satoshi, Mayumi lebih dalam mengkaji tentang Islam dan wanita menurut pandangan Islam, tentu saja dengan bimbingan kak Ayame. Saat mempelajari doa-doa, satu kesadaraan menyelinap dalam benaknya. Betapa Islam bukan sekedar agama dengan ritual ibadah yang hanya berbicara tentang surga dan neraka. Islam mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh.
Seminggu setelah itu, Mayumi memutuskan untuk meninggalkan rumah Satoshi. Kemudian tinggal bersama Henry di sebuah apartemen. Dan setelah itu kebahagia mulai kembali dalam kehidupan Mayumi.
Cara penyampaian kisah dalam novel ini sangat bagus, seperti novel-novel pada umumnya. Tidak terlihat bahwa ini adalah novel pertama dari sang novelis yang diterbitkan. Pengenalan Islam pun dibuat sedemikian rupa sehingga tidak berat saat dibaca. Bahasanya yang ringan dan jelas tentang islam membuat novel ini mudah dipahami semua orang. Kisah antara Mayumi-Satoshi menarik untuk dibaca. Banyaknya potongan lirik dari ost anime dan kosakata Jepang yang akrab di telinga juga disisipkan dalam novel ini, sehingga menjadi nilai plus. Juga disertakan arti dalam bahasa Indonesianya. Banyak juga pengetahuan tentang kebudayaan Jepang yang dimasukkan dalam novel ini sehingga membuat kita seperti benar-benar berada di Jepang dengan semua adat dan kebiasaan yang berlaku disana.
Kekurangan dalam novel ini yaitu, ada beberapa bagian dalam novel ini yang kurang masuk akal. Seperti tokoh Satoshi yang digambarkan sebagai sesosok laki-laki sempurna dengan kualitas otak, wajah, dan ilmu agama yang baik. Pada kenyaataanya sulit ditemukan manusia yang seperti itu. Di luar penokohan, ada beberapa adegan dalam kisah yang juga kurang masuk akal. Selain itu, alur cerita yang mudah ditebak juga termasuk kekurangan dalam novel ini
Novel ini sangat cocok untuk dibaca orang-orang yang ingin mengenal Islam dan menambah pengetahuan tentang Islam lebih dalam lagi, terutama tentang wanita. Novel ini dapat dibaca mulai dari kalangan remaja.
Manusia pada hakikatnya mengetahui yang mana kebenaran, hanya saja tidak bisa langsung menerimanya, apalagi mengaplikasikannya dalam kehidupan.Tapi jika memang sudah saatnya hidayah itu datang dan manusia membuka hatinya untuk menerima hidayah tersebut, maka insya Allah jalannya akan terang. Sebaliknya, jika manusia menutup hatinya, maka gelaplah jalannya sampai Allah akan menyapanya kembali dengan hidayah-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang membuka hati terhadap kebenaran Allah, Amiin..
( NI’MAH NATSIR XI IPA MA DDI LIL-BANAT )
Makasih resensi novelnya ya ...
BalasHapusIzin copas, terima kasih
BalasHapusPengen baca lagi, ada kah yang punya novelnya? Atau yang jual novelnya?
BalasHapus